Rabu, 08 Februari 2017

Menyisir Jejak Rasa

Dimana letak rasa? Di indera. Indera peraba yang mengijinkan sekujur tubuh anda digerayangi sejuk dinginnya udara pegunungan. Indera penglihatan yang membawa anda berimaginasi liar dalam kemolekan tubuh alam dan penghuninya. Indera perasa yang memaksa mulut anda berkomat-kamit mengucapkan mantera 'enak tenan'. Andapun bisa dibuat terkantuk-kantuk mendengarkan musik pengantar tidur. Apalagi ya. Di hidung pesekmu itu. Terekam aroma wangi melati tetanggamu.

Indera harus dilatih kepekaannya. Sekali kehilangan kepekaan anda dibuat kelabakan. Kentut dihirup, wangi diemohi. Berabe. Panas berselimut, dingin tidak ada gombal bertaut. Gila bener. Tahi lalat dikira cokelat, cokelat dikira kurap. Ini mah rabun berat. Omong keras dikira marah, omong pelan dianggap diam. Aduh budegnya. Apalagi yang ini. Nasi basi dikatakan berasa strawbery. Ini namanya lidah jarang diservis. Jadi, tolong dipelihara betul-betul kepekaan indera. Semakin peka anda dimanjakan oleh kenikmatannya.

Dimana letak rasa? Di dalam dada. Yang di dalam dada bisa membuat lebih brasa dan brasa lebih. 'Pringbed' (bahasa Jawa: tempat tidur dari bambu) berasa springbed. Daun ketela senikmat paha. Itu berlaku bagi setiap orang yang menikmati dan mensyukuri hidup. Apapun yang dijumpai dan dimiliki berasa sorgawi. Suasana sorga hadir di bumi dan bumi menghadirkan sorga. Bukankah ini yang disebut brasanya hidup.

Anda tidak perlu risau kalau tidak memiliki cukup uang untuk memanjakan mata, telinga, lidah, hidung, kulit dan sekujur tubuh anda. Anda tidak perlu iri dengan mereka yang membualkan petualangan diri. Anda tidak usah menjadi seperti mereka. Jadilah diri yang dipenuhi dengan kepuasan Illahi.

Tidak jauh. Tidak mahal. Setiap inci dan jengkal hidup adalah berkat yang selalu teringat. Dan itu nikmat. Betapa nikmatnya berlumpur ria bersama istri dan anak-anak. Betapa bahagianya berbasah keringat membersihkan beranda bersama. Betapa enaknya makan nasi hangat berlauk sambal terasi dan tempe ditemani isteri.

Bukankah sorga itu terlihat dalam keriangan, kehangatan dan keakraban bersama. Kalau anda sudah mendapatkan sorga, mengapa mencari yang bukan sorga. Jadi carilah dahulu yang bernilai dan bersuasana sorga, maka semuanya akan ditambahkan kepada anda.

Jadi dimana letak rasa. Bukan di laci. Bukan di materi. Bukan di Bolywood atau Holywood. Bukan di luar negeri. Bukan di sana. Tetapi di sini. Di dalam hati. Di hati yang dialiri sukacita sorgawi.

Yang menerima segala sesuatu indah dan baik adanya. Yang menerima segala sesuatu sebagai pemberian Illahi. Asal segala sesuatu itu bukan dosa atau kedurjanaan diri. Mari mengasah hati. Dalam ketajaman hati seseorang akan menikmati brasanya hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar