Merendahkan diri di hadapan atasan adalah kewajaran, di hadapan orang sederajat adalah kesopanan, tetapi terhadap orang rendah adalah kesejatiannya.
Bukankah originalitas manusia terlihat dari ketiadaannya. Ketika kita lahir dan mati kita tidak membawa apa-apa. Kita menjadi apa dan siapa karena ada orang lain di sekitar kita.
Mengapa ketika memiliki apa-apa dan menjadi siapa, kita merendahkan mereka? Mengapa ketika engkau memiliki seragam, pedang, senjata, pentung dan pundi-pundi engkau lupa diri? Atribut itu bukan dirimu! Dirimu ada di balik segala hal yang kau kenakan!
Kita sesungguhnya telanjang. Kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Dia dan dia. Kalau kita melihat banyak hal, karena kita berdiri di atas TANGAN RAKSASA. Kalau kita memiliki banyak hal karena kita dimasukkan di GUDANG-NYA.
“Kerendahan hati itu seperti celana dalam, wajib dikenakan, tetapi tidak senonoh untuk dipamerkan”, tutur Helen Nielsen.
Tidak senonoh mengatakan sudah tahu Nusantara padahal hanya baru mengunjungi Taman Mini. Tidak senonoh mengatakan kita yang paling benar padahal secuil pengetahuan yang kita miliki.
Kehebatan dan kebesaran seseorang justru ketika berada di tempat yang tidak terlihat.
Ketika ia menjadi pelayan bagi yang lain. Menjadi hamba bagi semua orang. Orang yang demikian selalu berdoa, “Biarlah aku semakin kecil dan Engkau semakin besar; biar aku semakin berkurang dan Engkau semakin bertambah-tambah”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar