Jumat, 03 Februari 2017

Ketika Musim Cuek Tiba

Apakah tanggapan zaman ini ketika diajukan pertanyaan,

“Apakah ini atau itu!”

“Tidak ini dan tidak itu!” Jawabnya singkat.

“Kalau tidak mau ini atau atau, lantas?”.

“Ya, semau gue dong!”

Kalau sudah demikian manusia jaman ini berceramah.

“Ini bibir mau saya cat ungu, merah, hitam, coklat, ini bibir, bibir saya, peduli amat. Ini rambut mau saya semir putih di depan, coklat di samping atau mau saya cat warna warni, ini rambut saya, mengapa anda yang ribut. Ini wajah mau saya dekorasi semeriah mungkin itu hak saya, wong ini wajah saya, bukan wajahmu!”

Masuk akal khan. Kebebasan. Hidup serba individualis. Semau gue.

“Lu lu, gue gue. Lu makan tahu, gue makan cap jae. Lu lapar, gue mekar. Lu miskin, masa bodoh, yang penting gue bisa beli limosin. Kacihan deh lu!”

Hidup yang seperti ini banyak digemari manusia. Siapa sih yang senang diatur-atur, dibatasi atau dilarang.

Ada orang yang terkena jantung. Dokter yang satu menasihatkan untuk melakukan diet ketat. Ia mencoba konsultasi ke dokter lain. Anjurannya sama. Tidak puas, ia mencari dokter spesialis lainnya. Dan dokter ini mengatakan, tidak harus diet. Menurut anda, saran dokter mana yang diikuti? Pastilah dokter yang terakhir yang diamini.

Benarkah hidup yang serba bebas, boleh, individual itu mendatangkan kebaikan bagi pemakainya? Tidak. Semakin manusia mengumbar kebebasan diri, ia semakin kehilangan kemerdekaannya. Mereka miskin, telanjang dan buta. Buta terhadap diri, sesama, lingkungan dan Tuhan-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar