Pengendalian diri ibarat rem, berfungsi ketika diinjak atau ditarik. Ia bersanding dengan gas agar bisa mengawasi dan menyeimbangkan kecepatannya.
Pengendalian diri ketika diinjak akan mengurangi bahkan menghentikan setiap dorongan yang membahayakan perjalanan. Ia mengawasi gerak-gerik nafsu dan keinginan yang berbeda kemauan. Nafsu, dorongan dan keinginan cenderung melaju cepat, bebas dan liar; sedangkan pengendalian diri akan menyeimbangkan bahkan tidak segan menghentikan bila merusak kehidupan.
Seorang pengendara yang bijak mesti terus memeriksa dan memelihara ruang kendali diri. Di ruang kendali semua karakter diikat. Bila remnya berfungsi dengan baik, kehidupan semakin sehat dan dewasa. Tetapi bila blong, karakter yang mulia berlompatan keluar. Rumah kehidupan kita menjadi melarat dan sekarat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar