Seandainya waktu bisa diputar. Tidak akan dibiarkan setan yang berkelebat mendapatkan tempat. Memprovokasi nafsu yang menggunung.
Seandainya waktu dapat berbalik arah. Tidak akan diumbar kenikmatan sesaat menjerat sekarat.
Tetapi semuanya sudah terlanjur. Pemuda ceking itu terus diburu malam. Hari-hari nampak memanjang. Entah berapa malam ia terpenjara malu. Bulir kepedihan hati itu dibiarkan tumpah di atas sprei kumal.
Ia sudah berusaha menendang perasaan itu. Tetapi rasa bersalah tidak kunjung menggelandang pergi. Sementara suara-suara tudingan menyerbu dari keempat sudut dinding kamar yang dingin itu.
“Kamu jahat! Kau campakkan masa depanmu demi nafsu!”
“Kamu memupuskan mimpi orangtuamu!”
“Hai pendosa! Engkau tidak layak diampuni!”
Bila sudah begini, pemuda malang ini menggelepar liar. Menjerit dengan suara tersumbat. Membenci diri.
“Gusti, aku tidak kuat menanggung derita ini!!”
Pemuda ceking itu tidak sendirian. Ada jutaan orang yang terdampar di daratan penyesalan. Sebut saja Tono.
Penyesalannya tidak bisa menggantikan kakinya yang lumpuh akibat kebut-kebutan di jalan. Pandangan matanya lebih sering kosong. Pikiran binal membanjir.
“Bila sejak dahulu saya mendengar nasihat orangtuaku, aku tidak akan mengalami nasib seperti ini”.
“Gara-gara perbuatanku, orangtuaku tidak memiliki sawah ladang lagi”.
Betapa banyak kisah susah penyesalan. Ia datang pada saat titik kesadarannya tercelik. Ketika perbuatan yang dilakukan mendatangkan kesusahan bagi diri sendiri maupun orang lain. Bobot dan akibat penyesalannya saja yang berbeda. Perbuatan kesalahan yang berdampak sosial lebih luas tentu memberikan dampak penyesalan yang lebih dalam.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar