Selasa, 31 Januari 2017

Aduh, Mana Tahan!

Aduh, Mana Tahan?

Suatu kali ahli psikologi Universitas Stanford, Walter Mischel mengadakan penelitian terhadap anak-anak usia empat tahun. Mereka terus dipantau sampai SMU. Ini penelitian yang dilakukan Mischel. Setiap anak diberikan cokelat. Mereka diberikan kebebasan untuk memilih antara memakan langsung atau menunggu peneliti kembali ke ruangan. Anak yang mampu menunggu peneliti masuk ruangan diberikan dua cokelat. Sederhana khan penelitiannya?

Bisa diprediksi. Anak-anak yang tergoda untuk segera menikmati cokelat di tangannya langsung menikmatinya. Yang lain melakukan cara kreatif. Mereka menggunakan waktu menunggu dengan mengerjakan kegiatan lain.

Pada saat SMU, Mischel menemukan, murid-murid yang mampu menunggu bukan hanya lebih baik dalam prestasi sekolahnya tetapi juga dalam tes kesehatan mentalnya.

Seseorang yang memiliki kemampuan menunda kepuasan (Delayed Gratification dalam istilah Daniel Goleman), mereka memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi, yang menyumbangkan keberhasilan dan kesehatan mental-rohaninya di kemudian hari.

Betapa bahagianya orangtua bila melihat anak-anaknya tumbuh seperti buah yang masak pada waktunya. Lezat. Harum. Membanggakan.

Bukankah generasi ini dipenuhi dengan sikap tidak mampu menunda kepuasan. Sex bebas, korupsi, kejahatan dlsb adalah bentuk sikap yang tidak sanggup mengendalikan gejolak emosional dan perilaku.

Untuk membentuk pribadi cerdas dalam pengendalian dirinya, Maurice J. Elias menganjurkan kepada orangtua untuk mendidik anak-anak dalam rasa aman.

Jauhkan sedini mungkin pendidikan dengan bentakan, kemarahan atau sikap menyelidik tidak percaya. Sebaliknya dampingi anak-anak dalam perjalanan emosinya sampai mereka menemukan bahwa tidak ada sahabat, teman curhat terbaik kecuali orangtuanya sendiri.

Peran orangtua itu seperti penanam bunga. Menyiram, memupuk dan terus mengikuti perkembangan bunga idamannya.

Bangsri, 31 Januari 2017

Senin, 30 Januari 2017

Cintaku di Ujung Nafsu

Juminen, ibu muda cantik beranak satu. Tinggi, langsing dan singset. Kulitnya kuning langsat. Agak centil kemayu. Mbak Juminem selain dikaruniai kecantikan alami, ia juga pintar menjaga penampilan. Mulai senam kebugaran sampai perawatan wajah. Wajahnya cukup dekoratif dengan polesan make up tipis-tipis.

Seperti biasanya, ditemani Vario gresnya, Mbak Juminem melenggang mengantarkan buah hatinya yang baru masuk TK Kecil. Sepeda motor diparkir. Puluhan pasang mata terhipnotis oleh kehadirannya.

“Lha wong koq ayune kaya ngono ya. Carane nggawe piye biyen?” (Orang koq cantiknya begitu. Bagaimana membuatnya dulu?)

“Andaikan saya memiliki tubuh singset dan padet kayak Mbak Jumimen!” doa kecil Bu Paijah. Maklum. Tubuhnya kian hari kian mengembang ke kanan dan ke kiri. Lemu ginak ginuk.

Di ujung sana mata nakal pria tidak berkedip. Paling di dalam hatinya bergemuruh harap.

“Betapa bahagianya suami yang memiliki isteri Mbak Juminem?” Sudah bisa ditebak. Bapak-bapak di sana sudah jengah dengan penampilan istri-istri mereka. Ngelomprot, sewot dan sudah semakin kempot.

Sudah menjadi sembahyang wajib, tiap pagi Mbak Juminem mengantar si kecil. Ada kegembiraan tersendiri berada di lingkungan sekolah. Apalagi sejak hari Jumat Wage itu. Mata ibu dengan lesung pipit ini bertubrukan dengan pria muda yang beberapa minggu memindahkan anaknya ke TK itu.

“Siapa ya dia?”

Bagi Mbak Juminem, bertemu dengan pria tampan itu makanan sehari-hari. Tidak sedikit bahkan anak-anak muda menggoda rayu. Seperti itulah pria-pria kalau melihat wanita yang kelihatan ‘melek’.

Tetapi hari itu beda. Entah mengapa, setiap kali dia melihat pria itu, jantungnya berpacu lebih cepat. Tubuhnya bergetar. “Oh, Tuhan!” dia coba menampik.

Waktu bergulir. Getar di dada berlipat-lipat. Entah kapan mulainya, Mbak Juminem sedemikian dekat dan akrab dengan pria yang baru dikenal. Dalam mimpi, dalam bangun, pria itu terus menggelayut dalam hati. Selanjutnya? Sabar dulu bu!

Seringkali Tuhan membunyikan tanda bahaya lewat segala sesuatu yang kita rasakan. Mbak Juminem misalnya, sebenarnya dia sudah mendengar tanda bahaya itu ketika jantungnya berdegap kencang demi menatap mata pria pujaannya. Tanda itu ditalukan, ketika dia begitu berhasrat untuk mendekat dan mendekapnya.

Semestinya ketika sirine itu mengaum kencang, berlarilah. Hanya itu cara aman untuk menyelamatkan dari ketagihan yang lebih gila. Mencoba mendekat itu sama artinya dengan menaruh leher di tali gantungan. Mendekat berarti kiamat. Mendekat berarti tamat.

Bangsri, 30 Januari 2017

Minggu, 29 Januari 2017

Memboosting Semangat

Ini kisah nyata tentang seorang penyanyi tenar yang bersuamikan seorang komposer lagu. Suaminya begitu ahli dalam tehnik menyanyi. Begitu ahlinya sehingga selalu saja dia menemukan apa yang harus dikoreksi ketika istrinya menyanyi.

“Bagian endingya kurang bagus”.

“Bagian ini terasa fals”.

“Terlalu banyak improvisasi sehingga lagu aslinya hilang”.

”Vibrasinya terlalu menyolok”. Seperti itulah makanan keseharian sang istri. Selalu salah di mata suami. Sampai akhirnya dia malas menyanyi .

Dalam perjalanan waktu, suaminya meninggal karena serangan penyakit. Lakon kehidupan wanita inipun berlanjut. Dia menikah lagi dengan pria tukang ledeng.

“Ma, suaramu sangat bagus. Saya bersyukur Tuhan memberikan suara emas kepada mama”, suaminya tidak menduga nyanyian kamar mandi sang istri begitu merdunya. Tak henti-hentinya kata pujian meluncur dari mulutnya. Istrinya tersipu.

Esok hari.

”Lho pa, jam segini kok sudah pulang ?”

“Saya mau mendengarkan suara mama. Pusing mendengar suara besi yang memekakkan telinga” . Sang istri mendapat suntikan semangat.

“Ma, mengapa mama tidak menyanyi lagi ?”

Semangat yang terkubur itu bangkit kembali. Dia terus berlatih dan berlatih . Dan sepanjang waktu itu suaminya terus memuji. Apa yang terjadi ? Wanita itu menjadi penyanyi paling terkenal di Eropa .

Charles Schwab mengatakan, “Saya belum pernah menemukan orang, yang tidak melakukan pekerjaan lebih baik dan berusaha lebih keras ketika ia didukung daripada ia dikritik”. Pujian itu memboosting kemampuan orang lain. Ia mengangkat siapapun yang didorong dan dipuji untuk mendaki lebih tinggi dalam pengaktualisasian diri. Jadilah suporter fanatik bagi orang lain, maka mereka akan berkembang melebihi apa yang anda bayangkan.

Kata-kata “Masakanmu enak”, “Kamu tampak cantik hari ini”, “Kamu hebat!” , “Terima kasih, anda telah melakukan dengan baik” memiliki dampak yang dahsyat dalam melejitkan semangat, prestasi, kemampuan, kinerja, daya juang dan karya-karya yang lebih besar. Biasakan memuji. Itu adalah vitamin yang memacu semangat hidup.

 Bangsri, 29 Januari 2017

Yohanes Prapto Basuki

Jumat, 27 Januari 2017

Dunia Jambu Monyet

“Mbok yang jujur!”

“Jangan! Jujur bakal ajur!”

“Mbok yang beriman!”

“Jangan! Jaman edan yen ora ngedan ora bakal keduman!”

“Ah, yang benar saja!”

“Begini lho mas, Di hari gini janganlah sebut-sebut nama itu. Sudah lama dimuseumkan. Kadaluwarsa. Anda tidak akan mendapat apa-apa dan menjadi siapa-siapa dengannya.”

“Benarkah?”

“Kamu tahu tidak. Orang Jawa pada zaman dulu akan dihormati kalau memiliki 5-a. Wisma: rumah mewah; Garwa: istri cantik; Pusaka: milik pusaka yang bisa dinikmati tujuh turunan; Kukila (arti harfiahnya burung): hobi dan Turangga: kendaraan (harfiahnya kuda). Di Singapura sana, orang akan disebut orang kalau memiliki 5C. Car, cash, credit card, computer dan condominium.”

“Apa hubungannya?”

“Walah-walah, wong koq bloonnya begini! Kalau anda jujur, anda tidak akan mendapatkan itu semua! Kalau anda tidak ‘ngedan’ anda tidak dapat bagian!”

Inilah dunia jambu monyet. Zaman sungsang. Hidup yang dibolak balik. Jujur dibilang hancur, yang tidak jujur dikatakan mujur. Menjadi waras diemohi, menjadi gila digandrungi. Dasar.

Jagade wis kuwalik. Orang yang korupsi berjubah suci sedang para rohaniwan berperilaku preman. Dasar.

Para pejabat menjadi penjahat; kaum berkerah menjadi lintah. Dasar.

Mestinya ruang hidup mereka diberikan cermin besar. Supaya melihat. Kehancuran tatanan hidup disebabkan oleh perilaku tidak jujur dan ngedan. Kemujuran dan kemapanan mereka adalah kehancuran dan kemelaratan banyak orang. Manusia ditumbalkan demi nafsu dan keserakahan. Dasar.

Bangsri, 27 Januari 2017

Yohanes Prapto Basuki

Kamis, 26 Januari 2017

Permainan Tim

Pernikahan itu bukan permainan bulutangkis tunggal yang mengandalkan skil perseorangan. Pernikahan itu permainan ganda. Keduanya saling mengisi dan menguasai lapangan.

Pernikahan itu ibarat sepak bola. Menjadi tim yang tangguh dalam penyerangan dan pertahanan yang kuat.

Dalam realitanya, keluarga banyak memuat kisah permainan tunggal. Itu yang dicatat di Kitab Suci. Sebut saja Imam Eli. Orangtuanya hebat, tetapi anaknya bejat. Keluarga Samuel, orangtuanya militan, anaknya kayak setan. Keluarga Abraham, suaminya taat tetapi istrinya tukang paksa. Ayub saleh, tetapi istrinya, amit-amit. Ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang.

Mengapa kisah-kisah ini dimuat? Untuk menyadarkan generasi ke depan. Bahwa pernikahan itu permainan tim. Orang yang terbiasa hidup bagi diri sendiri, pasti gagal membangun pernikahan. Yang yang ingin maju sendiri, tidak pantas untuk menikah. Kamus hidup keluarga adalah kita bukan aku.

Dari sekian banyak keluarga yang dituturkisahkan dalam Kitab Suci, terdapat keluarga solid. Keluarga Zakharia-Elisabeth. Dituturkan, “Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat”.

Kata ‘keduanya’ patut diberikan tekanan, karena untuk membangun keluarga utuh dibutuhkan dua orang. Sedangkan untuk menghancurkannya dibutuhkan cukup satu orang saja. Untuk mendirikan bangunan keluarga yang kokoh dibutuhkan dua orang; tetapi untuk merobohkan dibutuhkan cukup satu orang saja.

Bangsri, 26 Januari 2017

Rabu, 25 Januari 2017

Mendengar

Dalam banyak budaya, pembicara dianggap sebagai simbol keunggulan dan kepintaran. Sedang si pendengar dianggap tidak tahu apa-apa.

Dalam banyak realita, orang lebih senang berbicara apa saja apalagi dirinya; dan memaksa orang untuk mendengar. Tetapi giliran orang lain berbicara, ia memalingkan muka.

Secara natural, Sang Maha, menempelkan telinga dua kali lebih banyak dari mulut, dengan tujuan menajamkan kualitas perkataan. Di singgasananya, sang bibir sebelum meluncurkan sederet kata, ia mendapatkan masukan dari dua penasihat terbaiknya. Mengabaikan mendengar hanya akan menghasilkan jenis perkataan ‘tas kresek’. Ramai bunyinya tetapi kosong isinya. 

Padahal bila seni mendengar terasah ketajamannya, ia akan menjadi kunci dari semua kekuatan, kepemimpinan, komunikasi dan keberhasilan.

Karenanya mendengar adalah inti dari kebijaksanaan.

Bangsri, 25 Januari 2017

Selasa, 24 Januari 2017

Yang Di Bawah Tidak Takut Jatuh

Seseorang yang memiliki kepribadian yang kuat adalah mereka yang berani mengakui kelemahannya.

Seseorang yang disebut pemberani adalah mereka yang melihat dan mengakui ketakutannya.

Seorang pemenang adalah mereka yang sering dibanting oleh kekalahan dan kesalahan.

Seorang yang rendah hati adalah mereka yang berani menginjakkan tanah sekalipun berada di ketinggian dan dibenamkan dalam dinginnya bumi.

Mereka yang berada di bawah tidak takut jatuh.

Bangsri, 24 Januari 2017

Yohanes Prapto Basuki

Senin, 23 Januari 2017

Kebodohan Hidup

Kebodohan terbesar manusia adalah menganggap bahwa kota perlindungan dibangun dari material harta benda.

Mereka berpikir matahari, bulan dan bintang gemintang sanggup dikantongi.

Uang tetaplah secarik kertas yang gampang terbakar, raib dan rusak. Sebuah kebodohan berbonus kelucuan apabila manusia berlindung pada sesuatu yang rapuh.

Taruhlah harap dan hidup pada menara yang kuat; tidak terbuat dari beton atau baja kekar. Tetapi disangga oleh TANGAN YANG KEKAR yang menyangga bawana. Kepada DIA orang berteduh dan mendapatkan keamanan.

Bangsri, 23 Januari 2017

Yohanes Prapto Basuki

Minggu, 22 Januari 2017

Mantera Yang Menghidupkan Orang Mati

Lidah memiliki dua botol, dibawa di sepanjang hidupnya. Yang satu berisi ramuan yang menghidupkan, yang lain racun mematikan. Ia memiliki duapuluhlima ribu lebih ramuan kata yang harus dimuntahkan lewat ujung bibir kecil itu. Salah mengambil botol adalah petaka hidup.

Nun di sana, seorang pria bak burung terpenggal sayapnya. Lunglai. Putus asa, kesepian dan merasa tidak berguna. Setiap hari dia menegak racun, berupa perkataan kritik, umpatan, sindiran, ketiadaan hormat dari pasangannya. “Sia-sia!” ia membatin.

Saat gelap melemparkan selimut pekatnya, datang seorang yang sederhana. Berstrata rendah. Dia duduk di sampingnya. Mendengar. "Aku merasakan apa yang kau rasakan teman. Tetapi aku percaya, engkau bisa menghadapi semua. Tuhan menolongmu. Aku akan menjadi supportermu yang baik".

Pria itu bangkit dari kebekuan malam. Bangkit dari keputusasaan, disirami kesejukan lidah sahabatnya, memekarkan gairah, membangkitkannya dari kematian.

Teman, hidup dan mati dikuasai oleh lidah. Gemakanlah yang mendatangkan kehidupan. Pujian, dorongan, apresiasi, doa, dan nasihat adalah mantera sakti yang menghidupkan jutaan orang.

Bangsri, 22 Januari 2017

Yohanes Prapto Basuki

Kamis, 19 Januari 2017

Kulit Magnet

Si pemberi berkulitkan magnet. Dia diam menarik orang, dia bergerak diikuti orang. Dari mereka yang sekedar ingin mengambil hati sampai yang tulus hati.

Si pemberi mendepositokan hidup melalui orang bukan bank. Investasinya terus hidup, bergerak dan beranak pinak. Memperanakkan kasih dan pemberian yang berlipat. Karena siapa yang memberi akan diberi. Ia akan diberi orang dan apa yang dimilikinya.

Si pemberi tidak takut kesepian, orang-orang di sekitarnya menjadi penghiburan baginya. Ia tidak takut dengan keamanannya, orang di sekitar menjadi tembok. Ia tidak kekurangan karena hidupnya kepenuhan berkat. Ia terus berbahagia karena kebahagiaan didapat dari memberi. Kekayaan, pengalaman dan kesaksian hidup bertumpuk-tumpuk datang dari pengiriman sorga.

Kopeng, 19 Januari 2017
Yohanes Prapto Basuki

Rabu, 11 Januari 2017

Cinta Menghapus Kesalahan

Ketika anda memendam dendam, sesungguhnya anda terpenjara oleh orang yang anda benci dan situasi yang menyebabkan anda sakit.

Tarikan nafas anda tersengal, terhalang oleh geram yang menyumpal. Mimpi anda terkerudungi kehadirannya. Jangan biarkan diri anda terbakar oleh api yang anda buat.

Enyahkan duka lara kebencian dengan pengampunan. Itulah satu-satunya cara membebaskan diri dari jerat kepahitan.

Mengampuni membuat hidup tidak terganggu oleh musuh apapun. Tetapi sekali kebencian engkau erami, di luar sana berkeliaran musuh memutari hidup anda.

Memang tidak gampang. Orang yang lemah tidak bisa mengampuni, karena untuk mengampuni dibutuhkan kekuatan dan kebesaran jiwa. Pertama, kekuatan diri yang berani menampik benalu jahanam. Seterusnya mempersilahkan Tuhan melepaskan yang tidak bisa anda cabut.

Bangsri, 11 Januari 2017

Yohanes Prapto Basuki

Senin, 09 Januari 2017

Cinta adalah Kekuatan

Cinta Adalah Kekuatan

Dalam suatu acara makan pagi, seorang pemuda menyampaikan keinginan hatinya,
“Pa, saya mau menikah!”. Sambil sesekali mengelap mulutnya, ayahnya menatap anaknya.
“Kamu serius!”. Anggukan kepala cukup meyakinkan kesungguhannya.
“Apakah kamu sungguh-sungguh mencintainya?”. Sekali lagi pemuda itu mengangguk,
“Saya sangat mencintainya pa!”. Papanya terdiam sejenak.
“Bagaimana kamu tahu kalau kau sungguh mencintainya, nak?”. Dengan penuh keyakinan pemuda ini menceritakan kepada papanya.
“Pa, kemarin saya apel ke rumah pacar saya. Pada waktu saya ngobrol dengan pacar saya, tidak sengaja saya menginjak anjingnya yang duduk di bawah saya. Saya digigit!”
“Lantas, apa hubungannya dengan cinta?”, potong ayahnya.
“Pa, ketika saya dekat dengan pacar saya, saya tidak merasakan kesakitan apapun, meskipun kaki saya berdarah”.

Untuk mengerti tentang cinta, tanyakanlah pada sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran. Meski berjalan diterik matahari, mereka bilang seperti berjalan di mall ber-AC. Tidak bertemu sehari dibilang seperti setahun rasanya. Pantaslah sebuah nyanyian campursari menggambarkan cinta itu seperti
“Wong yen lagi gandrung, rak peduli mbledhose gunung” (Orang yang sedang jatuh cinta, tidak peduli letusan gunung berapi). Benarlah bahwa sandiwara yang paling lucu adalah permainan sepasang insan yang sedang ‘gandrung’. Ketiak bau dibilang wangi, masakan asin dirasakan enak tenan, wajah penuh jerawat dilihatnya mulus, gembrot dibilang langsing, berjam-jam apel dikira sebentar sehingga Agur bin Yake dan Masa menempatkannya sebagai perkara yang sulit dimengerti dan mengherankan.

Juga tanyakanlah pada seorang anak yang merasa nyaman dalam dekapan ibunya. Meski hujan deras menghempas, bersambar-sambaran bunyi petir dikawal kilat, ía terlelap tidur dalam gendongan ibunya. Tanyakan juga pada orangtua yang semalaman menunggui anaknya sakit. Sementara orang sedang dibuai oleh mimpi, mereka tetap terjaga sekalipun rasa kantuk dan kelelahan menggodanya untuk tidur.

Pendek kata, cinta adalah kekuatan yang sanggup meluruskan watak yang bengkok, kekuatan yang mengubah si kikir menjadi pemurah, si pengecut menjadi pemberani; kekuatan yang memberi daya untuk bertahan mengatasi kesulitan, rasa sakit, tantangan atau penderitaan hidup; serta kekuatan yang mampu memperlihatkan pengaruh-pengaruh yang nyata dari orang yang dicintainya; kekuatan yang menghadirkan kehidupan, keagungan, kemesraan, keindahan, keanggunan dan kerinduan.

Jepara, 9 Januari 2017

Yohanes Prapto Basuki

Minggu, 08 Januari 2017

Mau Tahu Bedanya?

Keserupaan dan perbedaan, dua keadaan yang hampir saban hari kita amati dan renungi. Persoalan, situasi, karir, kedudukan, status atau yang lain boleh sama, tetapi selalu ada titik pembeda. Yang satu kuat yang lain sekarat. Yang satu bertahan yang lain menjadi bulan-bulanan. Yang satu menjadi berkat yang lain menjadi laknat. Yang satu menjulang tinggi, lainnya tertelan bumi. Yang satu dikagumi yang lain diributi. Mengapa berbeda.

Mereka adalah pemimpin besar yang dicatat sejarah. Orang seperti Adolf Hitler, Joshep Stalin, Rasputin, Idin Amin, dan Osama Bin Laden menjadi monster-monster yang menghancurkan sejarah; sebaliknya Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Mahatma Gandi menjadi ‘malaikat-malaikat pengubah sejarah’. 

Charles Scwab dan Thomas Alfa Edison sama-sama orang terkenal dan kaya. Mereka sama-sama kehilangan kekayaan. Yang satu bangkrut, yang satu perusahaannya ludes ditelan api. Tetapi mengapa yang satu mengakhiri hidup dengan bunuh diri sedangkan yang satu berani berkata, “Terimakasih Tuhan, saya bisa memulai lagi bersama Engkau”.

Sai Baba, pria India yang sederhana. Ia penjual es blok. Dia dikenal diseluruh dunia sebagai pemimpin yang disegani. Pemandangan ini nampak berlawanan bila menyaksikan sekian banyak orang miskin yang memilih mengemis, menipu, mencuri berlaku tidak jujur.

Baru-baru ini diberitakan mantan ratu di Virudhunagar, India, bernama Appamma Kajjallappa, bersama anaknya, rela hidup di sebuah gubuk dan berjuang keras untuk mendapatkan sesuap nasi. Ia merelakan harta kekayaannya disumbangkan untuk kesejahteraan rakyat. Bahkan istana peninggalanpun dijadikan sekolah untuk memenuhi permintaan rakyat. Ia rela menjadi bukan siapa-siapa lagi. Menjadi miskin supaya masyarakat sejahtera.

Keadaannya bertolak belakang dengan gaya hidup para elit politik. Rakyat dibiarkan miskin asal mereka kaya raya. Rakyat berurai air mata karena bencana; tetapi para elit pelesiran dengan uang mereka.

Mengapa berbeda? Karena yang satu sekedar menjadi pemimpin; sedang yang lain memiliki kepemimpinan. Mereka barangkali tidak memiliki posisi, tetapi kehidupannya mampu menggembalakan banyak orang. Mereka tidak belajar ilmu kepemimpinan tetapi mengenakan kepemimpinan yang sesungguhnya, kepemimpinan yang menghamba.

Mengapa berbeda? Karena yang satu sekedar mengejar fasilitas; sedang yang lain memiliki spiritualitas. Mereka barangkali tidak memiliki sederet fasilitas, tetapi kehidupannya menyimpan kekayaan spiritualitas yang membuatnya terus kaya dalam kemurahan.

Mengapa berbeda? Karena yang satu sekedar mengumpulkan sekarung emas, yang lain memiliki integritas. Mereka mensyukuri apa yang menjadi bagiannya. Integritasnya mencegah untuk tidak mengambil apa yang bukan miliknya.

Jepara, 8 Januari 2017

Yohanes Prapto Basuki

Jumat, 06 Januari 2017

Kuasa Doa

Yakobus 5:17 
Yakobus sedang mengapungkan tiga keyakinan yang mengakar dalam keagamaan Yahudi. 

1. Sakit dan penderitaan itu diakibatkan oleh dosa. Agar seseorang sembuh, dia harus mengakui dosa di hadapan Tuhan. Melalui kuasa pengakuan, orang sakit disembuhkan (Yakobus 5:15).

2. Agar efektif, pengakuan dosa dilakukan di hadapan Tuhan dan manusia. Pengakuan ini untuk mencabut dua penghalang yang merintangi hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama (Yakobus 5:16). 

Dalam sejarah, kelompok Moravia dan Wesley mempraktekkan kebiasaan ini tiga kali seminggu. Jemaat mengakui dosa di hadapan Tuhan dan mereka saling mengaku dosa bagi kesembuhan dan pemulihan mereka. 

Di zaman sekarang tradisi ini diteruskan lewat komunitas wanita bijak dan pria sejati. 

3. Bila dibanding dengan dua hal di atas, kuasa doa memiliki pengaruh yang tidak terbatas (Yakobus 5:16-17). Rabi Yahudi berkata, "Pengakuan dapat mengubah sesuatu tetapi doa mengubah segalanya". 

Ya, doa adalah saluran yang terhubung dengan kuasa Tuhan yang melalui-Nya kehidupan, anugerah dan kuasa-Nya dialirkan. Bukan hanya menyembuhkan sakit dan memulihkan hidup. Tangan doa menjangkau segala sesuatu. Mentransformasi segala sesuatu. 
Elia berdoa dan alampun bekerjasama dengan doanya. Yabes berdoa agar diberikan kekayaan yang melimpah, dan Tuhan mewujudkan. Bunda Theresa berdoa dan dia menjangkau India bermodalkan uang tiga siling (waktu itu hanya bisa untuk membeli segelas es). Seorang hamba Tuhan sederhana dari Papua berdoa meminta pesawat capung untuk pelayanan dan Tuhan menjawabnya. 

Sekarang Anda yang akan melengkapkan kisah doa. Saya percaya seandainya kisah doa-doa kita dibukukan, ribuan buku dapat dihasilkan. Masihkah meragukan kuasa doa? Untuk menjawab keraguan ini, nasihat saya sederhana. Berdoa. Berdoa. Berdoa. Dan anda akan membuktikan daya jangkau dan pengaruh doa itu NO LIMIT. 

Bangsri, 6 Januari 2016

Kamis, 05 Januari 2017

Berkah dan Susah Ketika Berubah

Anda tidak bisa menendang perubahan. Ia seperti barisan nafas yang berkeliaran di rongga hidung kita. Selalu ada dan dibutuhkan. Proses alami sekaligus rohani. Berkat berbalut ketidaknyamanan. Lihatlah! Betapa gembiranya ibu ketika dokter mengatakan ia positif hamil. Ada sebuah perubahan. Menggembirakan karena sebentar lagi dapat momongan. Menyusahkan karena berbadan dua. Dalam perubahan itu selalu ada nuansa berkah dan susah.

Perubahan apapun bentuknya merupakan lompatan besar untuk kemajuan. Sekaligus tantangan yang memaksa kita keluar dari zona kenyamanan. Mana ada bayi yang terus memeluk kenyamanan rahim budanya? Mana ada anak yang terus meringkuk dalam gendongan orangtuanya? Mana ada remaja yang terus berasyik masyuk dengan mainan? Mereka keluar dari dunia yang pernah menyamankannya. Hal itu dipilih karena ada dunia baru yang lebih menantang dan mendewasakan.

Daripada menangisi perubahan, lebih baik kita melakukan perubahan penting untuk menangani perubahan yang ada. Kita merayakan setiap langkah kecil dalam melewati proses perubahan ini, dan belajar mensyukuri segala karunia yang Tuhan berikan. 

Hadapilah perubahan dengan keberanian. Rangkullah rasa sepi. Nikmatilah rasa sakit dan pahit. Terimalah perubahan. Anda akan terbantu melihat diri dengan jernih melalui kehilangan, kesendirian dan kesepian. Anda tertolong memahami makna ketergantungan pada Tuhan di saat menghadapi keterhilangan atau kegagalan. Bahkan anda menyadari berharganya sahabat di saat kita tersayat. Rayakanlah perubahan hidupmu.

Bangsri, 5 Januari 2017
Yohanes Prapto Basuki

Rabu, 04 Januari 2017

Tambahkan Segenggam Cinta

Cinta memerlukan kobaran api yang menghangatkan. Arang-arang sentuhan, pelukan, cubitan, guyonan dan kedekatan memberikan efek dahsyat yang merekatkan keluarga.  Ia laksana lem yang menyatukan. Sekaligus energi yang menyembuhkan, menyamankan dan menguatkan. Lihatlah anak-anak yang tidur pulas di dekapan orangtua sekalipun guntur memuntahkan auman dan kilatannya. Lihatlah muda-mudi yang tidak pernah kehabisan tenaga ketika mereka berdua. Itulah cinta.
Membayangkan kemesraan, kecantikan, kegagahan sebagai modal satu-satunya dalam keutuhan keluarga adalah kebodohan. Nyala arang lama kelamaan kian meredup. Kecantikan dan kegagahan akan merosot. Waktu-waktu berduaan kayak ‘mimi lan mintuna’ kian tergerus seiring berkembangnya tuntutan keluarga. Sentuhan fisik harus disempurnakan dengan sentuhan jiwa. Disinilah pentingnya memasuki tahapan cinta phileo. Rasa sayang yang muncul dalam hubungannya dengan persahabatan. Cinta yang dibangun karena kehangatan, keakraban dan kebaikan. Cinta ini dibangun dari sebuah upaya dari keduabelah pihak untuk membuka diri serta kesediaan untuk saling memberi dan menerima. Cinta ini juga dikuatkan dengan usaha masing-masing pihak memberikan kebaikan bagi relasi itu sendiri. Cinta inilah yang menjadikan relasi seseorang demikian akrab dan erat. Seseorang merasa kehadirannya diterima, diakui, dimengerti dan didengarkan. Kunci pembukanya adalah komunikasi.
Bangsri, 4 Januari 2017
Yohanes Prapto Basuki

Selasa, 03 Januari 2017

Sehat Tanpa Obat

Norman Counsin, mantan editor “The Saturday Review” pada tahun 1964 mengidap penyakit aneh yang menyebabkan tulang belakangnya terpisah. Untuk sembuh total kesempatannya 1 dibanding 100. Mendengar bahwa potensi untuk sembuh kecil, mendorong Counsin mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Dia meminta diputarkan film komedi. Dan ini penuturannya, “10 menit tertawa membuat saya bisa tidur 2 jam tanpa terasa sakit”. Dengan terapi tertawa, Counsin akhirnya sembuh bahkan bisa menunggang kuda dan main golf.

Kegembiraan mampu meningkatkan daya tahan tubuh (antibody). Ketika seseorang tersenyum atau tertawa, aliran darah bergerak ke otak, selanjutnya otak menyebarkan perasaan positif ke seluruh tubuh. Terjadilah perubahan susunan kimiawi dalam tubuh yang besar manfaatnya bagi system syaraf dan kekebalan. Tidak mengherankan bila bayi lebih sehat dibandingkan orang dewasa. Menurut penelitian,  anak-anak tertawa 400 kali dalam sehari; sedangkan orangtua hanya 15 kali dalam sehari. Hasilnya? Tingkat kesehatan anak lebih baik dibanding orangtua.

Penelitian ini sesungguhnya sudah ditelisik ribuan tahun silam. “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat” “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang”, demikian penuturan penulis Amsal. Bila kegembiraan hati memiliki efek kesehatan dan mental yang besar, mengapa tidak dimulai sekarang? Mulai dan pungkasi hidup dengan merayakan kegembiraan. Manfaatkanlah pertemuan dengan gurauan yang sehat. Bersikaplah positif terhadap orang lain. Ramahlah satu terhadap yang lain, dan hadapilah segala sesuatu secara positif.

Bangsri, 3 Januari 2017
Yohanes Prapto Basuki