Juminen, ibu muda cantik beranak satu. Tinggi, langsing dan singset. Kulitnya kuning langsat. Agak centil kemayu. Mbak Juminem selain dikaruniai kecantikan alami, ia juga pintar menjaga penampilan. Mulai senam kebugaran sampai perawatan wajah. Wajahnya cukup dekoratif dengan polesan make up tipis-tipis.
Seperti biasanya, ditemani Vario gresnya, Mbak Juminem melenggang mengantarkan buah hatinya yang baru masuk TK Kecil. Sepeda motor diparkir. Puluhan pasang mata terhipnotis oleh kehadirannya.
“Lha wong koq ayune kaya ngono ya. Carane nggawe piye biyen?” (Orang koq cantiknya begitu. Bagaimana membuatnya dulu?)
“Andaikan saya memiliki tubuh singset dan padet kayak Mbak Jumimen!” doa kecil Bu Paijah. Maklum. Tubuhnya kian hari kian mengembang ke kanan dan ke kiri. Lemu ginak ginuk.
Di ujung sana mata nakal pria tidak berkedip. Paling di dalam hatinya bergemuruh harap.
“Betapa bahagianya suami yang memiliki isteri Mbak Juminem?” Sudah bisa ditebak. Bapak-bapak di sana sudah jengah dengan penampilan istri-istri mereka. Ngelomprot, sewot dan sudah semakin kempot.
Sudah menjadi sembahyang wajib, tiap pagi Mbak Juminem mengantar si kecil. Ada kegembiraan tersendiri berada di lingkungan sekolah. Apalagi sejak hari Jumat Wage itu. Mata ibu dengan lesung pipit ini bertubrukan dengan pria muda yang beberapa minggu memindahkan anaknya ke TK itu.
“Siapa ya dia?”
Bagi Mbak Juminem, bertemu dengan pria tampan itu makanan sehari-hari. Tidak sedikit bahkan anak-anak muda menggoda rayu. Seperti itulah pria-pria kalau melihat wanita yang kelihatan ‘melek’.
Tetapi hari itu beda. Entah mengapa, setiap kali dia melihat pria itu, jantungnya berpacu lebih cepat. Tubuhnya bergetar. “Oh, Tuhan!” dia coba menampik.
Waktu bergulir. Getar di dada berlipat-lipat. Entah kapan mulainya, Mbak Juminem sedemikian dekat dan akrab dengan pria yang baru dikenal. Dalam mimpi, dalam bangun, pria itu terus menggelayut dalam hati. Selanjutnya? Sabar dulu bu!
Seringkali Tuhan membunyikan tanda bahaya lewat segala sesuatu yang kita rasakan. Mbak Juminem misalnya, sebenarnya dia sudah mendengar tanda bahaya itu ketika jantungnya berdegap kencang demi menatap mata pria pujaannya. Tanda itu ditalukan, ketika dia begitu berhasrat untuk mendekat dan mendekapnya.
Semestinya ketika sirine itu mengaum kencang, berlarilah. Hanya itu cara aman untuk menyelamatkan dari ketagihan yang lebih gila. Mencoba mendekat itu sama artinya dengan menaruh leher di tali gantungan. Mendekat berarti kiamat. Mendekat berarti tamat.
Bangsri, 30 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar