Pernikahan itu bukan permainan bulutangkis tunggal yang mengandalkan skil perseorangan. Pernikahan itu permainan ganda. Keduanya saling mengisi dan menguasai lapangan.
Pernikahan itu ibarat sepak bola. Menjadi tim yang tangguh dalam penyerangan dan pertahanan yang kuat.
Dalam realitanya, keluarga banyak memuat kisah permainan tunggal. Itu yang dicatat di Kitab Suci. Sebut saja Imam Eli. Orangtuanya hebat, tetapi anaknya bejat. Keluarga Samuel, orangtuanya militan, anaknya kayak setan. Keluarga Abraham, suaminya taat tetapi istrinya tukang paksa. Ayub saleh, tetapi istrinya, amit-amit. Ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang.
Mengapa kisah-kisah ini dimuat? Untuk menyadarkan generasi ke depan. Bahwa pernikahan itu permainan tim. Orang yang terbiasa hidup bagi diri sendiri, pasti gagal membangun pernikahan. Yang yang ingin maju sendiri, tidak pantas untuk menikah. Kamus hidup keluarga adalah kita bukan aku.
Dari sekian banyak keluarga yang dituturkisahkan dalam Kitab Suci, terdapat keluarga solid. Keluarga Zakharia-Elisabeth. Dituturkan, “Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat”.
Kata ‘keduanya’ patut diberikan tekanan, karena untuk membangun keluarga utuh dibutuhkan dua orang. Sedangkan untuk menghancurkannya dibutuhkan cukup satu orang saja. Untuk mendirikan bangunan keluarga yang kokoh dibutuhkan dua orang; tetapi untuk merobohkan dibutuhkan cukup satu orang saja.
Bangsri, 26 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar