Aduh, Mana Tahan?
Suatu kali ahli psikologi Universitas Stanford, Walter Mischel mengadakan penelitian terhadap anak-anak usia empat tahun. Mereka terus dipantau sampai SMU. Ini penelitian yang dilakukan Mischel. Setiap anak diberikan cokelat. Mereka diberikan kebebasan untuk memilih antara memakan langsung atau menunggu peneliti kembali ke ruangan. Anak yang mampu menunggu peneliti masuk ruangan diberikan dua cokelat. Sederhana khan penelitiannya?
Bisa diprediksi. Anak-anak yang tergoda untuk segera menikmati cokelat di tangannya langsung menikmatinya. Yang lain melakukan cara kreatif. Mereka menggunakan waktu menunggu dengan mengerjakan kegiatan lain.
Pada saat SMU, Mischel menemukan, murid-murid yang mampu menunggu bukan hanya lebih baik dalam prestasi sekolahnya tetapi juga dalam tes kesehatan mentalnya.
Seseorang yang memiliki kemampuan menunda kepuasan (Delayed Gratification dalam istilah Daniel Goleman), mereka memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi, yang menyumbangkan keberhasilan dan kesehatan mental-rohaninya di kemudian hari.
Betapa bahagianya orangtua bila melihat anak-anaknya tumbuh seperti buah yang masak pada waktunya. Lezat. Harum. Membanggakan.
Bukankah generasi ini dipenuhi dengan sikap tidak mampu menunda kepuasan. Sex bebas, korupsi, kejahatan dlsb adalah bentuk sikap yang tidak sanggup mengendalikan gejolak emosional dan perilaku.
Untuk membentuk pribadi cerdas dalam pengendalian dirinya, Maurice J. Elias menganjurkan kepada orangtua untuk mendidik anak-anak dalam rasa aman.
Jauhkan sedini mungkin pendidikan dengan bentakan, kemarahan atau sikap menyelidik tidak percaya. Sebaliknya dampingi anak-anak dalam perjalanan emosinya sampai mereka menemukan bahwa tidak ada sahabat, teman curhat terbaik kecuali orangtuanya sendiri.
Peran orangtua itu seperti penanam bunga. Menyiram, memupuk dan terus mengikuti perkembangan bunga idamannya.
Bangsri, 31 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar