Rabu, 25 Januari 2017

Mendengar

Dalam banyak budaya, pembicara dianggap sebagai simbol keunggulan dan kepintaran. Sedang si pendengar dianggap tidak tahu apa-apa.

Dalam banyak realita, orang lebih senang berbicara apa saja apalagi dirinya; dan memaksa orang untuk mendengar. Tetapi giliran orang lain berbicara, ia memalingkan muka.

Secara natural, Sang Maha, menempelkan telinga dua kali lebih banyak dari mulut, dengan tujuan menajamkan kualitas perkataan. Di singgasananya, sang bibir sebelum meluncurkan sederet kata, ia mendapatkan masukan dari dua penasihat terbaiknya. Mengabaikan mendengar hanya akan menghasilkan jenis perkataan ‘tas kresek’. Ramai bunyinya tetapi kosong isinya. 

Padahal bila seni mendengar terasah ketajamannya, ia akan menjadi kunci dari semua kekuatan, kepemimpinan, komunikasi dan keberhasilan.

Karenanya mendengar adalah inti dari kebijaksanaan.

Bangsri, 25 Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar