Cinta memerlukan kobaran api yang menghangatkan. Arang-arang sentuhan, pelukan, cubitan, guyonan dan kedekatan memberikan efek dahsyat yang merekatkan keluarga. Ia laksana lem yang menyatukan. Sekaligus energi yang menyembuhkan, menyamankan dan menguatkan. Lihatlah anak-anak yang tidur pulas di dekapan orangtua sekalipun guntur memuntahkan auman dan kilatannya. Lihatlah muda-mudi yang tidak pernah kehabisan tenaga ketika mereka berdua. Itulah cinta.
Membayangkan kemesraan, kecantikan, kegagahan sebagai modal satu-satunya dalam keutuhan keluarga adalah kebodohan. Nyala arang lama kelamaan kian meredup. Kecantikan dan kegagahan akan merosot. Waktu-waktu berduaan kayak ‘mimi lan mintuna’ kian tergerus seiring berkembangnya tuntutan keluarga. Sentuhan fisik harus disempurnakan dengan sentuhan jiwa. Disinilah pentingnya memasuki tahapan cinta phileo. Rasa sayang yang muncul dalam hubungannya dengan persahabatan. Cinta yang dibangun karena kehangatan, keakraban dan kebaikan. Cinta ini dibangun dari sebuah upaya dari keduabelah pihak untuk membuka diri serta kesediaan untuk saling memberi dan menerima. Cinta ini juga dikuatkan dengan usaha masing-masing pihak memberikan kebaikan bagi relasi itu sendiri. Cinta inilah yang menjadikan relasi seseorang demikian akrab dan erat. Seseorang merasa kehadirannya diterima, diakui, dimengerti dan didengarkan. Kunci pembukanya adalah komunikasi.
Bangsri, 4 Januari 2017
Yohanes Prapto Basuki

Tidak ada komentar:
Posting Komentar