“Mbok yang jujur!”
“Jangan! Jujur bakal ajur!”
“Mbok yang beriman!”
“Jangan! Jaman edan yen ora ngedan ora bakal keduman!”
“Ah, yang benar saja!”
“Begini lho mas, Di hari gini janganlah sebut-sebut nama itu. Sudah lama dimuseumkan. Kadaluwarsa. Anda tidak akan mendapat apa-apa dan menjadi siapa-siapa dengannya.”
“Benarkah?”
“Kamu tahu tidak. Orang Jawa pada zaman dulu akan dihormati kalau memiliki 5-a. Wisma: rumah mewah; Garwa: istri cantik; Pusaka: milik pusaka yang bisa dinikmati tujuh turunan; Kukila (arti harfiahnya burung): hobi dan Turangga: kendaraan (harfiahnya kuda). Di Singapura sana, orang akan disebut orang kalau memiliki 5C. Car, cash, credit card, computer dan condominium.”
“Apa hubungannya?”
“Walah-walah, wong koq bloonnya begini! Kalau anda jujur, anda tidak akan mendapatkan itu semua! Kalau anda tidak ‘ngedan’ anda tidak dapat bagian!”
Inilah dunia jambu monyet. Zaman sungsang. Hidup yang dibolak balik. Jujur dibilang hancur, yang tidak jujur dikatakan mujur. Menjadi waras diemohi, menjadi gila digandrungi. Dasar.
Jagade wis kuwalik. Orang yang korupsi berjubah suci sedang para rohaniwan berperilaku preman. Dasar.
Para pejabat menjadi penjahat; kaum berkerah menjadi lintah. Dasar.
Mestinya ruang hidup mereka diberikan cermin besar. Supaya melihat. Kehancuran tatanan hidup disebabkan oleh perilaku tidak jujur dan ngedan. Kemujuran dan kemapanan mereka adalah kehancuran dan kemelaratan banyak orang. Manusia ditumbalkan demi nafsu dan keserakahan. Dasar.
Bangsri, 27 Januari 2017
Yohanes Prapto Basuki
Tidak ada komentar:
Posting Komentar