Dalam Tarian Kepalsuan
Ini tentang kita. Melenggang lenggok mengikuti tabuhan zaman, meliukkan tarian kepalsuan. Tarian topeng yang bersilih rupa mementaskan keindahan. Dan applause, pujian, penghargaan serta sanjungan membusungkan dada. Sangat menyenangkan!
Musikpun berhenti berhentak. Tidak ada tarian. Tidak ada pementasan. Sanjungan dan pujian ditelan bumi. Kerumunan pulang, meninggalkan kesepian yang mendalam. Tinggal cermin itu yang berani menunjukkan wajah asli kita. Yang bopeng dan jerawatan. Yang mengajak kita menatap keaslian diri. Yang tidak pantas dikagumi dan digandrungi.
Kita ketakutan! Kita kebingungan! Topeng-topeng itu dipunguti kembali demi tuntutan, pengakuan dan penghormatan. Tetapi….Betapa melelahkan terus menerus ditunggangi topeng ini. Capek! Sakit! Dilepaskan, dikenakan. Dikenakan, dilepaskan. Bingungggggggg!!!!!!!!!!!
Jujur! Kita ingin disebut hebat, cepat, akurat, cermat, smart dan malaikat. Jujur! Kita ingin dijuluki mahkluk luar biasa. Si Rohani. Si Kaya. Si Dermawan. Karena itu ada imbalannya. Orang-orang berkerumun mengelu-elukan kita.
Jujur! Kita tidak ingin lemah, salah dan kalah kita diketahui. Itu noktah yang memalukan. Itu wilayah privasi. Ruang terkunci. Kamar tersembunyi. Orang lain jangan mengetahuinya! Kalau mereka tahu, pastilah mengemohi kita. Kita mondar-mandir mencari akal.
Bukankah kita sejenis makhluk yang pintar menyemat ketelanjangan dengan daun ara? Bukankah kita makhluk pintar yang bisa mengubah bibir hitam menjadi merah menyala, pipi keriput menjadi putih merona, rambut beruban disulap menjadi hitam legam? Kalau soal menutup lemah dan salah itu mah gampang. Mudah dicari di pasaran. Topeng! Ya! Mengenakan topeng!
Topeng menjadi komoditi primadona yang wajib dibeli. Bahkan menempati peringkat kedua setelah nasi. Semua berebut menyungginya. Dari jemaat sampai pejabat, kaum awam sampai rohaniwan, anak sampai bapak, ibu sampai guru. Laris manis. Saking banyaknya, orang pada dibuat penasaran. Siapa sih orang dibalik topeng itu?
Tanggalkanlah Topengmu
Anda tidak bisa terus menerus bersembunyi dibalik topeng. Kalaupun para pengagummu bisa dikibuli, itu tidak berlangsung lama. Bagaimanapun keburukan atau kebusukan akan memamerkan dirinya. Nah, semua mulut tidak terkatup, "Saya tidak menyangka, orang yang meneriakkan moralitas sekarang terjerat Juminem Hot!"
Lagian sekarang orang sudah pada pinter. Mereka bisa membedakan antara wajah asli dan wajah operasi. Wajah topeng dengan wajah bopeng. Wajah kosmetik dengan wajah otentik.
Sudahlah, lepaskan topeng itu. Anda akan kelelahan. Anda akan dikelabuhi dengan tipu dayanya. Anda akan ditumbalkan oleh topeng yang anda kenakan. Lepaskan topeng itu. Memang sakit! Dibutuhkan keberanian! Keberanian mengakui setiap bopeng dalam diri; memperlihatkan keaslian dan menjalani hidup dengan menjadi apa adanya. Dengan kekuatan dan kelemahannya.
Sementara kita berjalan menuju kesempurnaan, akuilah ketidaksempurnaan ini. Lebih berbahagia menjadi diri sendiri daripada menjadi orang lain. Lebih indah melihat kealamian diri daripada topeng yang mati.