Minggu, 26 Februari 2017

Uang

Uang

Untuk menternakkan uang dibutuhkan kepandaian. Untuk mencarinya diperlukan kejujuran. Untuk mengendalikannya dibutuhkan kekuatan rohani.

Uang akan menjadi setan bila didewakan; tetapi akan menjadi pelayan bila diarahkan bagi kemuliaan Tuhan.

Uang pada dasarnya hanyalah kertas dan logam biasa. Uang akan mendatangkan kerusakan atau kebaikan sangat tergantung pada pemiliknya.

Uang menjadikan orang bijak semakin arif, tetapi orang pandir semakin bodoh.

Jadilah tuan yang baik atas uang anda. Cairkan uangmu untuk meneteskan kebaikan.

Resep Tahan Lama

Berbohong memiliki kecepatan tempuh yang tinggi tetapi gampang rusak. Kejujuran memiliki ketahanan yang lama meskipun pelan.

Siapa yang mengemudikan hidup dengan cepat akan mengauskan mesin. Tetapi siapa yang memelihara hidup dengan kejujuran, segala yang dilakukan bertahan lama.

Kebohongan berorientasi pada masa kini dan di sini. Kejujuran melihat masa depan.

Untuk sesaat kebohongan memiliki hari ini tetapi kehilangan masa depan.

Kekayaan masa depan diwariskan kepada orang-orang jujur.

Kebohongan sepintas kayak harimau yang gagah. Tetapi lemah. Lain halnya dengan kejujuran. Ia seperti kuda yang bertenaga dan tahan lama.

Siapa yang memelihara kejujuran ia memiliki malaikat pengawal yang menyertai laku pemiliknya.

Kemanapun mereka pergi, mereka berkalungkan ketentraman, keselamatan dan masa depan.

Sabtu, 25 Februari 2017

Asal Ada Pengharapan Anda Tidak Mati

Ketika seseorang kehilangan pengharapan sesungguhnya dia sedang mati. Ketika seseorang dalam keputusasaan akut, ketiadaan motivasi dan tanpa pengharapan, pada saat itu sel kematian merambat dengan cepat. Membekukan seluruh hidup.

Pengharapan adalah prasyarat dasar kehidupan. Ibarat ikan tidak bisa dipisahkan dengan air, burung dengan udara, pohon dengan tanah dan manusia tidak dapat hidup tanpa pengharapan.

Asal masih ada pengharapan, seseorang memiliki sayap untuk terbang. Bila pengharapan masih menggeliat, mayat akan dibangkitkan. Ketika semburat pengharapan berbinar, penderitaan menutup muka dengan malu. Ia tidak bisa mencabik manusia dengan jari-jemarinya yang tajam.

Marah dan Ramah

Bila kemarahan mengintip di ujung bibir, dan anda lupa mengatupkannya, bersegeralah mengunci sebelum berubah menjadi harimau yang menerkam siapa saja.

Bila kemarahan memprovokasi lati, padamkanlah, sebelum melalap habis diri dan sesama anda.

Bila kemarahan merajuk, meminta wilayah yang lebih luas dalam ruang jiwa anda, tendanglah. Rebut kembali wilayah kehidupan anda.

Kemarahan itu mengerdilkan jiwa. Memiskinkan hubungan. Menumbalkan kesehatan. Menuakan wajah. Membunuh karakter. Tidak ada persoalan yang terselesaikan dengan bersenjatakan kemarahan.

Mbok jadi orang yang ramah. Keramahan adalah magnet yang menarik banyak orang. Anda tidak perlu koar-koar karena bahasa tubuh anda berisi undangan persahabatan. Anda akan disukai banyak orang karena ada banyak yang bisa anda bagikan dari hidup anda. Percaya atau tidak! Orang yang RAMAH itu MURAH dan menjadi RUMAH bagi banyak orang.

Jumat, 24 Februari 2017

Mengenali Diri

Petualangan hidup yang penuh makna adalah menelusuri jejak diri. Kita khatam menghafal kelemahan dan kekuatan diri dibanding orang lain. Mereka hanya sesekali mengunjungi beberapa sudut dari kita. Sementara kita saban hari berkeliling memeriksa dan membersihkan seluruh ruang keberadaan.

Dalam pengenalan diri ini orang mengalami kegembiraan unik. Kadang ia terpingkal-pingkal melihat cermin dirinya. Ia mampu menertawakan diri seimbang dengan kepiawaiannya mengoreksi pribadinya.

Mereka yang mengenal diri dengan baik akan mengenal orang lain dan Tuhan secara baik pula.

Berbahagialah mereka yang mengenali diri karena mereka lebih banyak menujukan jari ke arahnya daripada orang lain.

Kamis, 23 Februari 2017

Berkendaraan Penyesalan (lanjutan)

Berkiblat Ke Masa Depan

Memburai penyesalan tidaklah menguntungkan. Penyesalan haruslah dilihat dari sisi yang lain. Sejatinya penyesalan adalah bagian dari ritme hidup yang terfolder dalam kenangan. Ada kenangan manis tetapi juga ada kenangan pahit. Ada kisah keberhasilan namun juga ada cerita kegagalan. Keduanya membentuk pengalaman hidup.

Penyesalan akan menjadi penjara hidup bila pemiliknya berkiblat pada masa lalu. Merelakan diri disalibkan diantara dua penjahat yaitu penyesalan masa lalu dan ketakutan menghadapi masa depan.

Mereka yang mengalami kelumpuhan hidup selalu berorientasi pada kelaluan. Merasa sebagai pendosa besar, biang kerok, seorang pecundang, kesalahannya tidak terampuni, pencoreng muka keluarga dan masyarakat dst. Dengan memilih ini mereka meletakkan beban berton-ton di atas pundaknya. Menghukum diri dengan pasal hukum yang diciptakannya. Mematikan diri dengan tali yang dipersiapkan.

Sesungguhnya penyesalan merupakan energi pendorong yang mengemudikan penumpangnya ke terminal keberhasilan.

Sejarah dunia banyak digenangi oleh tokoh-tokoh hebat yang dahulunya terpuruk dalam kegagalan, penyesalan dan kehancuran. Bedanya, mereka berkiblat ke masa depan. Mereka bergerak maju. Mereka tidak tenggelam di pusaran penyesalan. Dengan bergerak berarti bertumbuh.

Ada perbedaan antara Petrus dan Yudas Iskariot. Mereka pernah mengalami kesalahan fatal dalam kehidupan. Yang membedakan adalah di quadran mana mereka berada. Petrus selepas penyesalannya bergegas menuju quadran masa depan. Mereka mengakui kesalahan dan menata ulang kehidupannya.

Sementara Yudas Iskariot mengukum diri dengan derita batin dan tali gantungan.

Berkendaraan Penyesalan

Dengan menetapkan penyesalan sebagai sumber energi pendorong, akan memudahkan memetakan jalan pertumbuhan.

Mulailah perjalanan dengan pengakuan. Mengutarakan secara jujur kepada Tuhan atas pelanggaran yang terjadi.

Dilanjutkan dengan pemberesan dengan orang-orang yang dirugikan. Pemberesan tidak membuat seseorang terhindar dari akibat perbuatan dosa. Rangkullah rasa sakit. Rasa sakit adalah suara di padang gurun yang membalikkan arah kita.

Hadapi kesalahan itu. Bertanggung jawablah atas akibat apapun yang kita lakukan. Percayalah bahwa Allah akan mendampingi dan menguatkan pada saat sulit seperti ini.

Separuh perjalanan sudah dititi. Sekarang tambah kecepatan. Anda memasuki kawasan penataan ulang hidup untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih baik. Selamat menikmati energi penyesalan.

Selasa, 21 Februari 2017

Kisah Susah Penyesalan

Seandainya waktu bisa diputar. Tidak akan dibiarkan setan yang berkelebat mendapatkan tempat. Memprovokasi nafsu yang menggunung.

Seandainya waktu dapat berbalik arah. Tidak akan diumbar kenikmatan sesaat menjerat sekarat.

Tetapi semuanya sudah terlanjur. Pemuda ceking itu terus diburu malam. Hari-hari nampak memanjang. Entah berapa malam ia terpenjara malu. Bulir kepedihan hati itu dibiarkan tumpah di atas sprei kumal.
Ia sudah berusaha menendang perasaan itu. Tetapi rasa bersalah tidak kunjung menggelandang pergi. Sementara suara-suara tudingan menyerbu dari keempat sudut dinding kamar yang dingin itu.

“Kamu jahat! Kau campakkan masa depanmu demi nafsu!”
“Kamu memupuskan mimpi orangtuamu!”
“Hai pendosa! Engkau tidak layak diampuni!”

Bila sudah begini, pemuda malang ini menggelepar liar. Menjerit dengan suara tersumbat. Membenci diri.

“Gusti, aku tidak kuat menanggung derita ini!!”

Pemuda ceking itu tidak sendirian. Ada jutaan orang yang terdampar di daratan penyesalan. Sebut saja Tono.

Penyesalannya tidak bisa menggantikan kakinya yang lumpuh akibat kebut-kebutan di jalan. Pandangan matanya lebih sering kosong. Pikiran binal membanjir.

“Bila sejak dahulu saya mendengar nasihat orangtuaku, aku tidak akan mengalami nasib seperti ini”.

“Gara-gara perbuatanku, orangtuaku tidak memiliki sawah ladang lagi”.

Betapa banyak kisah susah penyesalan. Ia datang pada saat titik kesadarannya tercelik. Ketika perbuatan yang dilakukan mendatangkan kesusahan bagi diri sendiri maupun orang lain. Bobot dan akibat penyesalannya saja yang berbeda. Perbuatan kesalahan yang berdampak sosial lebih luas tentu memberikan dampak penyesalan yang lebih dalam.

(bersambung) 

Minggu, 19 Februari 2017

Tempat Mangkal Tuhan

Dimanakah tempat persinggahan Tuhan? Allah senang mangkal di tempat orang miskin-lemah. Di tempat itu manusia tidak dihargai sebagai manusia. Mereka dianggap tidak ada bahkan ditiadakan hanya lantaran tidak berada. Di tempat seperti itu Allah sering nongkrong. Untuk memanusiakan mereka. Dan menjadikan mereka ada.

Bagaimana mengenal wajah Tuhan? Tuhan sering memperlihatkan wajah-Nya dalam penyamaran. Sering menemui orang-orang yang menyeru Nama-Nya. Tetapi ketika Ia datang, pemuja-Nya pergi begitu saja. Ia diacuhkan karena pemuja-Nya banyak pangling. Ia datang sebagai gelandangan bukan orang gedongan.

Sesungguhnya banyak orang berlagak mengenal Tuhan tetapi tidak pernah menemui, menyambut atau melayani-Nya. Padahal kelak Dia akan bertanya, "Ketika Aku lapar, haus, telanjang, kedinginan dan kesepian engkau ada dimana?" Lha dalah! Banyak orang terkaget-kaget! Ternyata selama ini kita banyak mengabaikan Dia.

Sejatinya, pelayanan yang paling mendekatkan diri dengan Pencipta adalah menjumpai ciptaan-Nya yang paling papa dan hina.

Jumat, 17 Februari 2017

Ramuan Kata

Berkomunikasi bukanlah sekedar memuntahkan ribuan kata. Berkomunikasi adalah seni meracik kata dengan rasa untuk menghasilkan cita rasa sorga.

Komunikator yang baik selalu berusaha menghidangkan ramuan kata-rasa yang baik agar si pendengar menikmati energi kegembiraan luar biasa. Coba bongkar kembali bongkahan memori, ketika kita mendengar si dia berkata, "Aku mencintaimu". Amati dampak kata-rasa ini. Hari itu aliran listrik kebahagiaan mengalir dari ubun-ubun sampai kaki. Saking gembiranya, tubuh ini terasa bersayap.

Jadi yang terpenting dalam berkomunikasi adalah bagaimana menyampaikan berita yang mendatangkan dampak positif dan konstruktif bagi pendengarnya. Apakah mendatangkan mudarat atau laknat.

Komunikasi mendatangkan mudarat bila perkataannya berbalutkan ayat. Akan menimbulkan laknat bila komunikasi diidentikkan dengan bersilat. Namanya saja silat kata, tentu ada yang dikalahkan dan dilukai. Anda memilih yang mana?



Selasa, 14 Februari 2017

Pilihan

Ada perbedaan mendasar antara 'lebih baik' dengan 'lebih enak'. Harta banyak tentu lebih enak dibanding dengan sedikit harta. Makan daging pastilah lebih nikmat dibandingkan sayuran. Tetapi yang enak belum tentu lebih baik. Harta banyak itu menenangkan saraf. Tetapi bila karena harta, pemiliknya tidak mampu tidur nyenyak, pikirannya tersedak dan suasana keluarganya sesak; adakah sesuatu yang lebih baik di sana?  Mereka memiliki tetapi tidak menikmati. Sebaliknya ada orang yang tidak banyak memiliki, tetapi menikmati kehidupan ini.

Lagian yang mengenakkan belum tentu menyehatkan. Lihatlah mereka yang memiliki gaya hidup enak. Pada suatu titik, mereka menjadi tumbal kegarangan dari gaya hidupnya. Pola hidup enak itu menimbun “lemak”. Pada suatu saat “gerombolan penyakit” diternak.

Ternyata kualitas jauh lebih baik daripada kuantitas. Gisi lebih penting daripada isi. Ketenangan lebih baik daripada kecemasan. Suasana kasih lebih menikmatkan daripada segudang hidangan. Kualitas waktu lebih baik daripada banyak waktu. Hubungan lebih penting dari pelayanan. Yang terpenting dalam kehidupan ini adalah pikirkan dan pilihlah semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, yang sedap didengar, kebajikan dan patut dipuji.

Matamu Hatimu

Saya mewawancarai dua orang yang tidak saling menyukai di tempat berbeda. Masing-masing memuntahkan daftar kesalahan dan keburukan.

Di lain waktu saya meminta komentar dua orang yang saling mengasihi. Wow! Dari mulutnya mengalir daftar kebaikan di antara mereka.

Saya coba menyentil tentang kelemahan yang satu. Jawabnya, "Saya tidak mellihatnya. Kalaupun ada, saya bisa menerimanya".

Ternyata cara pandang kita terhadap orang lain sangat ditentukan oleh hati. Hati yang berkelimpahan kasih, mampu menampung kesalahan yang menggunung, dan melihat kebaikan yang tertambat.

Sementara hati yang diliputi kemarahan dan kebencian menggelapkan matahari. Mereka tidak mampu melihat dan mengapresiasi kebaikan dan kekuatan orang lain.

Karenanya jagailah hati ini. Jangan biarkan api kebencian dan kemarahan membutakan penglihatan kita. Lumasilah cara pandang dan hubungan kita dengan cinta.



Minggu, 12 Februari 2017

Aku dan Kamu

Tidak ada "AKU" dalam sebuah "KERJASAMA". Mereka yang mau menghuni rumah "KERJASAMA" harus mengurangi "aku" dan memperbanyak "kita". Biarlah "kita" semakin besar dan "aku" semakin kecil.

Kerjasama adalah hasil persilangan "aku" dan "kamu" yang melahirkan sosok luarbiasa yang bernama "kita".

Semua orang sudah paham bahwa hasil yang dicapai "kita" lebih dahsyat, hebat, cermat, cepat, akurat dan tepat dibandingkan "aku". Satu pemain berbakat tidak bisa menghasilkan tim yang kuat. Ia bisa menggeliat liat, tetapi tidak sanggup menjebol pertahanan yang kuat. Sebaliknya, tim yang kuat, mereka mampu membabat pertahanan yang ketat. Ketika kemenangan terjadi, mereka tidak peduli siapa yang akan dipuji. Karena mereka meyakini, kemenangan ini adalah kemenangan bersama.

Sabtu, 11 Februari 2017

Pemegang Hak Paten Kebenaran

Siapakah pemegang lisensi benar? Semua orang pasti berkata saya. Siapa pemegang kartu salah? Semua akan berkata mereka. Benar itu milik saya, sedangkan salah itu milik orang lain.

Mengapa banyak hubungan berujung pertikaian? Karena masing-masing berebut benar dan mengemohi salah.

Padahal dalam menyikapi sesuatu bukanlah soal benar atau salah. Sikap, tanggapan dan reaksi kita yang menentukan kualitas hubungan. Pemaknaan atas setiap situasi, peristiwa dan sikap orang lain jauh lebih penting katimbang mereaksi negatif atas persoalan yang ada.

Jumat, 10 Februari 2017

Mengendus Wajah di Balik

Dalam Tarian Kepalsuan

Ini tentang kita. Melenggang lenggok mengikuti tabuhan zaman, meliukkan tarian kepalsuan. Tarian topeng  yang bersilih rupa  mementaskan keindahan. Dan applause, pujian, penghargaan serta sanjungan membusungkan dada. Sangat menyenangkan!

Musikpun berhenti berhentak. Tidak ada tarian. Tidak ada pementasan. Sanjungan dan pujian ditelan bumi. Kerumunan pulang, meninggalkan kesepian yang mendalam. Tinggal cermin itu yang berani menunjukkan wajah asli kita. Yang bopeng dan jerawatan. Yang mengajak kita menatap keaslian diri.  Yang tidak pantas dikagumi dan digandrungi.

Kita ketakutan! Kita kebingungan! Topeng-topeng itu dipunguti kembali demi tuntutan, pengakuan dan penghormatan. Tetapi….Betapa melelahkan terus menerus ditunggangi topeng ini. Capek! Sakit! Dilepaskan, dikenakan. Dikenakan, dilepaskan. Bingungggggggg!!!!!!!!!!!

Jujur! Kita ingin disebut hebat, cepat, akurat, cermat, smart dan malaikat. Jujur! Kita ingin dijuluki mahkluk luar biasa. Si Rohani. Si Kaya. Si Dermawan. Karena itu ada imbalannya. Orang-orang berkerumun mengelu-elukan kita.

Jujur! Kita tidak ingin lemah, salah dan kalah kita diketahui. Itu noktah yang memalukan. Itu wilayah privasi. Ruang terkunci. Kamar tersembunyi. Orang lain jangan mengetahuinya! Kalau mereka tahu, pastilah mengemohi kita. Kita mondar-mandir mencari akal.

Bukankah kita sejenis makhluk yang pintar menyemat ketelanjangan dengan daun ara? Bukankah kita makhluk pintar yang bisa mengubah bibir hitam menjadi merah menyala, pipi keriput menjadi putih merona, rambut beruban disulap menjadi hitam legam? Kalau soal menutup lemah dan salah itu mah gampang. Mudah dicari di pasaran. Topeng! Ya! Mengenakan topeng!

Topeng menjadi komoditi primadona yang wajib dibeli. Bahkan menempati peringkat kedua setelah nasi. Semua berebut menyungginya. Dari jemaat sampai pejabat, kaum awam sampai rohaniwan, anak sampai bapak, ibu sampai guru. Laris manis. Saking banyaknya, orang pada dibuat penasaran. Siapa sih orang dibalik topeng itu?

Tanggalkanlah Topengmu

Anda tidak bisa terus menerus bersembunyi dibalik topeng. Kalaupun para pengagummu bisa dikibuli, itu tidak berlangsung lama. Bagaimanapun keburukan atau kebusukan akan memamerkan dirinya. Nah, semua mulut tidak terkatup, "Saya tidak menyangka, orang yang meneriakkan moralitas sekarang terjerat Juminem Hot!"

Lagian sekarang orang sudah pada pinter. Mereka bisa membedakan antara wajah asli dan wajah operasi. Wajah topeng dengan wajah bopeng. Wajah kosmetik dengan wajah otentik.

Sudahlah, lepaskan topeng itu. Anda akan kelelahan. Anda akan dikelabuhi dengan tipu dayanya. Anda akan ditumbalkan oleh topeng yang anda kenakan. Lepaskan topeng itu. Memang sakit! Dibutuhkan keberanian! Keberanian mengakui setiap bopeng dalam diri; memperlihatkan keaslian dan menjalani hidup dengan menjadi apa adanya. Dengan kekuatan dan kelemahannya.

Sementara kita berjalan menuju kesempurnaan, akuilah ketidaksempurnaan ini. Lebih berbahagia menjadi diri sendiri daripada menjadi orang lain. Lebih indah melihat kealamian diri daripada topeng yang mati.

Rabu, 08 Februari 2017

Menyisir Jejak Rasa

Dimana letak rasa? Di indera. Indera peraba yang mengijinkan sekujur tubuh anda digerayangi sejuk dinginnya udara pegunungan. Indera penglihatan yang membawa anda berimaginasi liar dalam kemolekan tubuh alam dan penghuninya. Indera perasa yang memaksa mulut anda berkomat-kamit mengucapkan mantera 'enak tenan'. Andapun bisa dibuat terkantuk-kantuk mendengarkan musik pengantar tidur. Apalagi ya. Di hidung pesekmu itu. Terekam aroma wangi melati tetanggamu.

Indera harus dilatih kepekaannya. Sekali kehilangan kepekaan anda dibuat kelabakan. Kentut dihirup, wangi diemohi. Berabe. Panas berselimut, dingin tidak ada gombal bertaut. Gila bener. Tahi lalat dikira cokelat, cokelat dikira kurap. Ini mah rabun berat. Omong keras dikira marah, omong pelan dianggap diam. Aduh budegnya. Apalagi yang ini. Nasi basi dikatakan berasa strawbery. Ini namanya lidah jarang diservis. Jadi, tolong dipelihara betul-betul kepekaan indera. Semakin peka anda dimanjakan oleh kenikmatannya.

Dimana letak rasa? Di dalam dada. Yang di dalam dada bisa membuat lebih brasa dan brasa lebih. 'Pringbed' (bahasa Jawa: tempat tidur dari bambu) berasa springbed. Daun ketela senikmat paha. Itu berlaku bagi setiap orang yang menikmati dan mensyukuri hidup. Apapun yang dijumpai dan dimiliki berasa sorgawi. Suasana sorga hadir di bumi dan bumi menghadirkan sorga. Bukankah ini yang disebut brasanya hidup.

Anda tidak perlu risau kalau tidak memiliki cukup uang untuk memanjakan mata, telinga, lidah, hidung, kulit dan sekujur tubuh anda. Anda tidak perlu iri dengan mereka yang membualkan petualangan diri. Anda tidak usah menjadi seperti mereka. Jadilah diri yang dipenuhi dengan kepuasan Illahi.

Tidak jauh. Tidak mahal. Setiap inci dan jengkal hidup adalah berkat yang selalu teringat. Dan itu nikmat. Betapa nikmatnya berlumpur ria bersama istri dan anak-anak. Betapa bahagianya berbasah keringat membersihkan beranda bersama. Betapa enaknya makan nasi hangat berlauk sambal terasi dan tempe ditemani isteri.

Bukankah sorga itu terlihat dalam keriangan, kehangatan dan keakraban bersama. Kalau anda sudah mendapatkan sorga, mengapa mencari yang bukan sorga. Jadi carilah dahulu yang bernilai dan bersuasana sorga, maka semuanya akan ditambahkan kepada anda.

Jadi dimana letak rasa. Bukan di laci. Bukan di materi. Bukan di Bolywood atau Holywood. Bukan di luar negeri. Bukan di sana. Tetapi di sini. Di dalam hati. Di hati yang dialiri sukacita sorgawi.

Yang menerima segala sesuatu indah dan baik adanya. Yang menerima segala sesuatu sebagai pemberian Illahi. Asal segala sesuatu itu bukan dosa atau kedurjanaan diri. Mari mengasah hati. Dalam ketajaman hati seseorang akan menikmati brasanya hidup.

Hebat Ketika Tidak Terlihat

Merendahkan diri di hadapan atasan adalah kewajaran, di hadapan orang sederajat adalah kesopanan, tetapi terhadap orang rendah adalah kesejatiannya.

Bukankah originalitas manusia terlihat dari ketiadaannya. Ketika kita lahir dan mati kita tidak membawa apa-apa. Kita menjadi apa dan siapa karena ada orang lain di sekitar kita.

Mengapa ketika memiliki apa-apa dan menjadi siapa, kita merendahkan mereka?  Mengapa ketika engkau memiliki seragam, pedang, senjata, pentung dan pundi-pundi engkau lupa diri? Atribut itu bukan dirimu! Dirimu ada di balik segala hal yang kau kenakan!

Kita sesungguhnya telanjang. Kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Dia dan dia. Kalau kita melihat banyak hal, karena kita berdiri di atas TANGAN RAKSASA. Kalau kita memiliki banyak hal karena kita dimasukkan di GUDANG-NYA.

“Kerendahan hati itu seperti celana dalam, wajib dikenakan, tetapi tidak senonoh untuk dipamerkan”, tutur Helen Nielsen.

Tidak senonoh mengatakan sudah tahu Nusantara padahal hanya baru mengunjungi Taman Mini. Tidak senonoh mengatakan kita yang paling benar padahal secuil pengetahuan yang kita miliki.

Kehebatan dan kebesaran seseorang justru ketika berada di tempat yang tidak terlihat.

Ketika ia menjadi pelayan bagi yang lain. Menjadi hamba bagi semua orang. Orang yang demikian selalu berdoa, “Biarlah aku semakin kecil dan Engkau semakin besar; biar aku semakin berkurang dan Engkau semakin bertambah-tambah”

Minggu, 05 Februari 2017

Panjang Usus

Kesabaran dalam pemahaman Jawa dibahasakan secara simbolis "panjang usus". Pemilihan kata ini tepat. Secara anatomi, usus manusia bila ditarik garis lurus memiliki ketinggian sepohon kelapa.

Mengapa tidak ditempatkan tegak berdiri? Berbahaya! Manusia sesegera mungkin mengeluarkan apa dimasukkan. Usus yang panjang tersebut ditempatkan melingkar-lingkar agar semua yang masuk dicerna secara panjang, baru diambil saripatinya.

Itulah kesabaran! Segala peristiwa, situasi dan sikap orang dicerna, dipahami, disikapi dan ditimbang-timbang dengan matang. Mereka mampu mengambil saripati hikmah dan maknanya; serta mampu membuang sampah dan sumpahnya.

Kesabaran tidak seperti beo. Mengeluarkan dan mereaksi dengan cepat apa yang diterimanya. Juga bukan seperti sprite. Ketika dikocok berbusa-busa. Kesabaran bukanlah kepribadian yang temperamental dan emosional.

Kesabaran itu kerelaan menanggung derita ketika menghadapi kelemahan, kesalahan dan perlakuan orang lain. Tepatlah kalau dalam bahasa Inggris dikatakan long suffering. Rela menderita, bukan korban penderitaan. Orang yang seperti ini mampu memerangi pertarungan besar. Karenanya orang sabar disebut sebagai pahlawan yang berkalungkan kemenangan.

Ketika Hantu Masalah Datang

Ketenangan itu seperti burung yang bertengger di tetumbuhan tepian air terjun. Ia tidak bergeming dengan gemuruh air, karena ia tahu ranting itu cukup kuat menahan tubuh mungilnya. Banyak orang kehilangan kebahagiaan karena ketika gemuruh persoalan menerjang, mereka lari dari rumah ke rumah, dan dari orang ke orang. Ia berpikir dunia ini mau perang sehingga membutuhkan banyak dukungan. Sangkanya, dengan melakukan demikian akan melepaskan ganjalan hati.

Padahal tindakan tersebut justru akan menambahkan kobaran api. Kita akan memiliki ketenangan hati pada tingkat tertentu, bila kita kurang mengiri kemajuan orang; kurang terancam dengan keberhasilan orang lain; dan kurang tertekan dengan sikap orang lain. Belajarlah dari burung yang memilih tetap tenang. Karena ada TANGAN yang menyangga dan mengurus hidup kita.

Ketenangan itu seperti burung yang bertengger di ‘hantu sawah’. Dia tidak takut menginjak kepalanya, karena tahu kalau kehadirannya berarti undangan menikmati bernasnya padi.

Banyak orang kehilangan kebahagiaan karena berpikir hantu masalah akan menghancurkan hidupnya. Mereka berlari kesana kemari mengharap tuah. Bertenggerlah dengan tenang. Dalam masalah, anda sedang diundang menikmati pesta besar.

Sabtu, 04 Februari 2017

Pasukan Pelaksana Firman

Pada saat kami merintis pelayanan baru, Tuhan tidak memberikan fasilitas, uang, tanah atau gedung terlebih dahulu. Dia memberikan para pendoa yang militan yang menopang pelayanan kami. Meskipun sudah tujuh kali kami berpindah tempat, mereka tetap setia berdoa bersama kami.

Dari doa-doa itulah dilahirkan banyak pelayanan seperti Rumah Kesembuhan, Rumah Pemulihan, Rumah Damai, Rumah Pergerakan, Rumah Pintar dll. Tentu kami rindu bisa mengerjakan banyak hal bagi Tuhan. Sekalipun kami bergerak dalam kesederhanaan dan keterbatasan, kami percaya Tuhan Yesus yang memiliki pekerjaan ini yang akan melimpahkan sumberdaya-Nya yang tidak terbatas.

Jumat, 03 Februari 2017

Ketika Musim Cuek Tiba

Apakah tanggapan zaman ini ketika diajukan pertanyaan,

“Apakah ini atau itu!”

“Tidak ini dan tidak itu!” Jawabnya singkat.

“Kalau tidak mau ini atau atau, lantas?”.

“Ya, semau gue dong!”

Kalau sudah demikian manusia jaman ini berceramah.

“Ini bibir mau saya cat ungu, merah, hitam, coklat, ini bibir, bibir saya, peduli amat. Ini rambut mau saya semir putih di depan, coklat di samping atau mau saya cat warna warni, ini rambut saya, mengapa anda yang ribut. Ini wajah mau saya dekorasi semeriah mungkin itu hak saya, wong ini wajah saya, bukan wajahmu!”

Masuk akal khan. Kebebasan. Hidup serba individualis. Semau gue.

“Lu lu, gue gue. Lu makan tahu, gue makan cap jae. Lu lapar, gue mekar. Lu miskin, masa bodoh, yang penting gue bisa beli limosin. Kacihan deh lu!”

Hidup yang seperti ini banyak digemari manusia. Siapa sih yang senang diatur-atur, dibatasi atau dilarang.

Ada orang yang terkena jantung. Dokter yang satu menasihatkan untuk melakukan diet ketat. Ia mencoba konsultasi ke dokter lain. Anjurannya sama. Tidak puas, ia mencari dokter spesialis lainnya. Dan dokter ini mengatakan, tidak harus diet. Menurut anda, saran dokter mana yang diikuti? Pastilah dokter yang terakhir yang diamini.

Benarkah hidup yang serba bebas, boleh, individual itu mendatangkan kebaikan bagi pemakainya? Tidak. Semakin manusia mengumbar kebebasan diri, ia semakin kehilangan kemerdekaannya. Mereka miskin, telanjang dan buta. Buta terhadap diri, sesama, lingkungan dan Tuhan-Nya.

Kamis, 02 Februari 2017

Aduh Remku Blong!

Pengendalian diri ibarat rem, berfungsi ketika diinjak atau ditarik. Ia bersanding dengan gas agar bisa mengawasi dan menyeimbangkan kecepatannya.

Pengendalian diri ketika diinjak akan mengurangi bahkan menghentikan setiap dorongan yang membahayakan perjalanan. Ia mengawasi gerak-gerik nafsu dan keinginan yang berbeda kemauan. Nafsu, dorongan dan keinginan cenderung melaju cepat, bebas dan liar; sedangkan pengendalian diri akan menyeimbangkan bahkan tidak segan menghentikan bila merusak kehidupan.

Seorang pengendara yang bijak mesti terus memeriksa dan memelihara ruang kendali diri. Di ruang kendali semua karakter diikat. Bila remnya berfungsi dengan baik, kehidupan semakin sehat dan dewasa. Tetapi bila blong, karakter yang mulia berlompatan keluar. Rumah kehidupan kita menjadi melarat dan sekarat.

Rabu, 01 Februari 2017

Sekolah Kehidupan

“Perbedaan mendasar antara sekolah dan hidup adalah di sekolah anda belajar baru kemudian diuji, sedangkan dalam kehidupan, anda diuji untuk mendapatkan pelajaran”, demikian penuturan Tom Boddet.

Di sekolah anda diuji untuk mendapatkan nilai dari satu pelajaran, di kehidupan, anda diuji untuk mendapatkan kekayaan pelajaran hidup. Di sekolah, ujian diberitahukan, sehingga siswa harus mempersiapkan diri; tetapi di kehidupan, ujian datang tidak diundang, sehingga seseorang harus selalu siap menjalaninya.

Di sekolah, seseorang belajar agar pintar, di kehidupan seseorang diuji agar murni. Di sekolah, bahan pelajaran ditulis dalam buku, tetapi di kehidupan pelajaran digoreskan dalam api. Ujian adalah api yang memurnikan emas, dan membakar belukar dalam diri.

Ujian adalah matakuliah terbaik yang membuat seseorang berkembang dan matang, murni dan suci, serta mulia dan dewasa. Mereka yang serius bertumbuh menyukai ujian, karena mereka tengah berziarah menuju kemuliaan. Ujian adalah panggilan untuk memasuki pendakian yang lebih tinggi sekaligus menuruni tempat yang paling bawah.

Bangsri, 1 Februari 2017